Hosting

Atasi Infertilitas dengan Bayi Tabung


Berita Terpopuler Petiknews



TEKNIK bayi tabung masih menjadi pilihan bagi para pasangan yang memiliki problem kesuburan. Di Indonesia, tingkat keberhasilan bayi tabung mencapai 35 persen dengan angka kelahiran hidup sekitar 25 persen.

Hadirnya si kecil dalam keluarga menjadi dambaan semua pasangan suami-istri (pasutri). Tapi sayang, sebagian dari mereka tidak gampang mendapatkannya. Nah, bagi Anda yang belum kunjung dikaruniai buah hati, tak perlu cemas. Berbagai upaya bisa Anda lakukan untuk mendapatkan si buah hati.

Namun, jika salah satu pasangan ada yang mengalami infertilitas atau ketidaksuburan, maka hal itu bisa menjadi masalah dalam keluarga. Infertilitas sudah menjadi kebutuhan global. Survei kesehatan WHO memperkirakan pada tahun 2020, 167 juta pasangan di dunia (tidak termasuk China) yang menikah berumur 15 sampai 49 tahun dalam usia subur akan mengalami infertilitas. Di Indonesia, diperkirakan 15 persen pasangan usia subur sulit mengalami kehamilan.

”Dengan meningkatnya tingkat ekonomi suatu negara, maka permintaan layanan infertilitas juga cenderung meningkat,” ujar ahli kandungan dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr dr Soegiharto Soebijanto SPOG(K).

Dikatakan oleh Soegiharto bahwa infertilitas adalah ketidakmampuan pasangan suami-istri untuk menjadikan istri hamil dan melahirkan anak hidup, setelah melakukan hubungan seksual secara teratur dalam waktu satu tahun tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

”Infertilitas dapat disebabkan oleh gangguan sistem reproduksi pada suami, istri, atau keduanya,” ujar Soegiharto dalam acara pengukuhannya sebagai guru besar tetap dalam obstetri dan ginekologi FKUI di Aula FKUI Salemba beberapa waktu lalu.

Masih dikatakan Soegiharto, dalam Undang-Undang Kesehatan pun masalah infertilitas disebutkan. Dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Pasal 16 ayat 1 disebutkan, dimungkinkan dilaksanakan kehamilan di luar cara alami untuk membantu pasangan suamiistri mendapatkan keturunan. Untuk menjaga agar etika dan keamanan pasien yang tinggi, maka perlu ada pengarah yang dapat menjaga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

”Untuk mengatasi infertilitas yang tidak biasa, maka harus ditangani dengan bayi tabung,” tandas dokter yang juga berprofesi sebagai staf pengajar di FKUI ini.

Pelayanan medis bayi tabung atau teknik reproduksi berbantu (TRB) hanya ditujukan kepada pasutri yang mempunyai indikasi infertilitas dan sudah tidak dapat ditanggulangi lagi dengan cara-cara konvensional, semisal tersumbatnya kedua saluran telur, kegagalan perawatan infertilitas secara konvensional, infertilitas idiopatik (unexplained infertility), dan kelainan spermatozoa yang berat (oligozoospermia berat).

TRB merupakan teknik yang dilakukan dengan memfertilisasi sel telur dengan spermatozoa secara in vitro (in vitro berasal dari bahasa Latin yang berarti di dalam gelas). Saat ini istilah in vitro dipakai untuk setiap prosedur biologi di luar tubuh). Proses TRB terdiri atas stimulasi ovarium, pengambilan sel telur dari dalam folikel (ovum pick up-OPU) dan kemudian memfertilisasi sel telur yang diperoleh dengan spermatozoa suami di dalam cairan medium. Zygote yang dihasilkan ditransfer ke dalam rahim istri.

”Tingkat keberhasilan di Indonesia mencapai 35 persen, dengan angka kelahiran hidup mencapai 25 persen,” jelasnya.

Program bayi tabung juga memiliki tingkat keberhasilan baru dengan keberhasilan memproduksi gamet tiruan, yaitu female sperm atau sel sperma dari tubuh wanita dan male egg atau sel telur dari tubuh laki-laki. Soegiharto mengatakan, teknik ini diduga akan berkembang seiring permintaan dari pasangan homoseksual yang menginginkan anak dari pasangannya sendiri dengan kehamilan pada ibu titipan.

Namun ditegaskan olehnya, perkembangan atau kemajuan di bidang ilmu pengetahuan tetap harus disesuaikan dengan etik dan moral agama. Di mana rambu-rambu regulasi juga sudah harus disiapkan sebelum masalah timbul.

”Oleh karena itu, pengawasan terhadap pusat pelayanan TRB oleh Departemen Kesehatan harus ketat, perizinan pembukaan pusat pelayanan TRB juga harus dibatasi,” sarannya.

Program bayi tabung memang bisa memberikan harapan bagi pasutri yang mengalami masalah infertilitas. Namun, teknik ini membutuhkan biaya yang relatif mahal, yaitu sekitar Rp50 juta. Inilah yang membuat program bayi tabung di Indonesia kurang begitu populer. Tapi bagi Anda yang berkantong cekak, jangan putus asa. Soegiharto menyarankan untuk melakukan teknik bayi tabung dengan biaya lebih murah.

”Teknik bayi tabung berbiaya murah itu, antara lain siklus natural, stimulasi minimal, dan pemanfaatan embrio beku. Cara ini sederhana, aman, dan berbiaya murah,” tandasnya.

Namun terkadang untuk beberapa pasangan, biaya tidak menjadi halangan untuk mendapatkan buah hati. Seperti yang diceritakan oleh Widiawati, 34. Perempuan yang berprofesi sebagai notaris ini mengikuti program bayi tabung sejak akhir 2009. Setelah 9 tahun menikah, dia belum dikaruniai seorang anak. ”Saya sempat mengikuti beberapa terapi, tapi belum juga menunjukkan hasil. Sekitar 2007, ternyata baru diketahui bahwa saya menderita penyakit kista yang menyebabkan saya susah mempunyai anak,” tuturnya.

Akhirnya sang dokter pun mengenalkan program bayi tabung. Dokter pun menyarankan dia dan pasangan untuk mengikuti program tersebut agar mendapatkan keturunan. ”Saya sudah melakukan programnya sejak akhir 2009. Ditangani oleh beberapa dokter ahli, saya mengikuti program tersebut sampai sekarang,” ungkap wanita yang akrab disapa Widia ini. Memang sampai saat ini program tersebut belum membuahkan hasil.

”Saya akan terus coba dan tetap optimistis akan berhasil,” pungkasnya.
(Koran SI/Koran SI/tty)

source

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...



About

Speak Your Mind

*