Konfrontasi antara tahanan politik (tapol) dan Pemerintah Kuba berakhir saat aksi mogok makan selama 135 hari berakhir Kamis 8 Juli.Sinyal baik bertambah kala Presiden Kuba Raul Castro kabarnya bakal melepaskan 52 tapol.
Tubuh Guillermo Farinas seperti hanya tinggal tulang dibungkus kulit. Matanya pun telah menjadi cekung. Dia bahkan disebut akan segera menemui ajal setelah 135 hari menolak menyantap makanannya di penjara. Farinas sedang melakukan aksi protes atas tewasnya seorang tapol Orlando Zapata Tamayo setelah melakukan aksi mogok makan selama 85 hari.
Ketika Zapata meninggal,Farinas pun berjanji tidak mau makan. Dia tidak mengunyah satu pun sumber nutrisi sehingga tubuhnya semakin lemas. Selama kurang lebih empat bulan terakhir, Farinas telah menghabiskan hari-harinya di rumah sakit.
Tubuhnya kian lemah akibat menderita hypoglycemic shock karena aksi mogok makannya. Dokter menyatakan nyawanya terancam bila dia meneruskan aksinya itu.
Beberapa hari lalu, Farinas sempat mengungkapkan bakal memperpanjang masa aksi mogok makan.Dia tidak akan makan sampai Pemerintah Kuba membebaskan lima tapol lain.
Sejak Raul berkuasa di Kuba pada 2008, jumlah tapol terus menurun.Menurut data organisasi hak asasi manusia (HAM) Kuba, jumlah tapol Kuba berkurang drastis sejak Januari 2010.
Namun, rencana itu urung dilakukan setelah rencana besar Raul untuk membebaskan lebih banyak tapol mengindikasikan sesuatu yang baik. Kalau sinyalsinyal baik terus menyelimuti Kuba,hubungan negara yang lekat dengan Fidel Castro dan negaranegara sedunia,termasuk Amerika Serikat (AS),turut membaik. Setelah mengakhiri aksi protes itu, Farinas mengeluarkan pernyataan lewat pendukungnya di sebuah rumah sakit di Kota Santa.
”Konfrontasi ini tidak ada yang menang atau kalah, hanya ada Kuba, negara kita, yang menang,” ujarnya. Awal tahun, jumlah tapol mencapai 201 orang. Kini, jumlahnya merosot tajam sampai angka 167 orang. Hal yang istimewa kembali terjadi Rabu 7 Juli. Saat itu, Pemerintah Kuba sepakat membebaskan 52 tapol.Tentu ini berita yang melegakan.
Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Hillary Clinton menyebut upaya Pemerintah Kuba sebagai ”sinyal positif”, sama seperti pemikiran para pengamat politik lain.
Secara khusus, Hillary menyambut baik pembebasan tapol Kuba. Dia berharap Pemerintah Kuba akan membebaskan lebih banyak tapol untuk membuktikan bahwa Kuba serius dengan upayanya.
Pembebasan tapol Kuba tidak lepas dari peran dewan gereja setempat. Bertindak sebagai mediator, gereja memohon kepada Pemerintah Kuba supaya lebih memperhatikan kesehatan tapol.Kabar terakhir, dewan gereja terus mendesak pemerintah supaya membebaskan sekurang-kurangnya 25 tapol. Hingga kini, proses pembebasan terhadap 25 tapol masih berlangsung.
Pejabat Gereja Katolik Kuba menyebutkan, lima tahanan pertama yang siap dibebaskan bisa kembali ke Spanyol dalam beberapa hari mendatang.Sementara enam tapol lain akan bebas dalam tiga sampai empat bulan berikutnya. Sebanyak 52 dari 75 tapol masuk penjara pada 2003. Mereka ratarata dikenai hukuman penjara mulai dari enam hingga 28 tahun.
Raul dan gereja Katolik, yang diwakili Kardinal Kuba Jaime Ortega, memiliki bentuk dialog yang berbeda dibandingkan mantan presiden yang lalu, Fidel Castro. Hubungan keduanya disebut-sebut sebagai penanda ”era baru Kuba”.
[Koran SI/ika]








