Hosting

Hidup Dikedalaman 700 M, Sempat Terpikir Kematian dan Kanibalisme


Berita Terpopuler Petiknews


kompas.com

Hidup di kedalaman 700 meter di bawah tanah, tanpa hubungan dengan dunia luar, sungguh sebuah pengalaman yang mengerikan. Terjadi sebuah proses yang amat kompleks saat melewati itu semua. Juga sempat terpikir soal kematian dan kanibalisme di antara sesama petambang.

Johny Barrios (50) di Copiapo, Sabtu (16/10/2010), adalah salah sa- tu dari 33 petambang yang ditarik di urutan ke-21, Rabu. Mereka terjebak di kedalaman 700 meter sejak 5 Agustus lalu akibat pertambangan milik Codelco runtuh.

Barrios menambahkan bahwa 32 petambang lain yang terjebak bersamanya sungguh merupakan para kerabat yang baik. Kami semua bisa bertahan karena bisa saling mengatur dengan baik pula.

”Dapatkah Anda membayangkan bagaimana rasanya hidup di kedalaman 700 meter itu? Sungguh mengerikan rasanya,” kenang Barrios, yang ketahuan punya istri simpanan setelah ia dipeluk oleh Susana, wanita yang bukan istri sah.

Barrios berperan sebagai pemantau kesehatan rekan-rekannya karena dia memiliki pengetahuan dasar soal itu. Meski merasakan kegetiran, Barrios malah ingin kembali bekerja ke pertambangan. ”Tentu, saya ingin bekerja kembali di pertambangan,” kata Barrios kepada para wartawan yang menunggu di luar Rumah Sakit Copiapo.

Saling menopang

Untuk saat ini Barrios mengatakan ingin istirahat untuk sementara. ”Saya beristirahat dulu dan kemudian kembali ke pertambangan,” kata Barrios yang tampil necis dengan pakaian baru dan kacamata baru, tetapi terlihat amat lelah.

Barrios menambahkan, ia memiliki masalah soal penglihatan serta diminta berkonsultasi dengan psikolog walaupun tak perlu dirawat inap.

Susana selalu mencoba mendorong semangatnya, tetapi tidak berhasil juga. ”Susah merasakan sebuah suasana pesta sekarang,” kata Barrios, yang hidup dalam suhu yang tergolong panas dan sangat lembab. Susana adalah salah satu alasan baginya untuk tetap semangat hidup.

Para petambang baru bisa melakukan kontak dengan dunia luar setelah sebuah lubang kecil berhasil dibuat pada 22 Agustus lalu. Namun, selama 17 hari, setiap petambang hanya bisa makan satu sendok kecil tuna dan salmon setiap hari, dari stok makanan yang kebetulan tersisa.

Ketakutan akan terjadinya kematian di kedalaman itu sering meneror batin mereka. Akan tetapi, di sisi lain ada banyak hal positif. Untungnya, semua koleganya saling mengatur dengan tertib kehidupan mereka demi satu tujuan, bertahan hidup.

”Sebenarnya tidak ada pemimpin di bawah sana dan yang ada adalah sebuah sistem demokratis. Setiap kali kami mengambil keputusan, semuanya harus lewat voting. Kesatuan atau kebersamaan adalah sebuah kunci,” ujarnya.

Berbeda dengan koleganya yang ingin segera bepergian, Barrios memilih tetap tinggal di Copiapo. ”Saya telah lama berada di kedalaman 700 meter, kini saya tak mau beranjak 700 meter di atas permukaan, atau tak mau berada 700 meter jauhnya dari tempat tinggal saya,” kata Barrios.

Rekan Barrios yang lain juga bertutur. Edison Pena (34), yang ditarik di urutan ke-12, mengatakan, ”Suasana memang mengerikan. Selama 17 hari pertama adalah hari-hari dengan mimpi buruk. Perasaan terberat adalah kenyataannya kami ada di bawah tanah.”

Richard Villarroel (27), petambang yang ditarik di urutan ke-28, juga mengatakan pengalamannya. ”Rasanya memang seperti menunggu kematian,” katanya kepada harian Inggris, The Guardian.

”Kami seperti sia-sia dan kehilangan berat badan. Saya sudah sempat pasrah tidak akan pernah lagi melihat bayi saya, yang justru paling saya tunggu-tunggu selama ini,” kata Villarroel, yang sedang menantikan kelahiran seorang bayi yang sedang dikandung istrinya.

Keadaan melegakan setelah upaya pertolongan makin jelas. Saat itu, barulah mereka saling bercanda tentang apa yang paling menakutkan mereka.

Ketakutan terbesar mereka ada banyak, tetapi di antaranya adalah terjadi kanibalisme di antara sesama petambang. Namun, semua itu baru bisa jadi bahan pembicaraan setelah pertolongan semakin nyata.

Perasaan lega muncul setelah mereka bisa berkomunikasi dan dikirim makanan. Mereka semakin yakin dengan penyelamatan karena Presiden Cile Sebastian Pinera meyakinkan mereka bahwa pertolongan sedang diupayakan.

Rosario dari Paus

Saat menunggu pertolongan tiba, para psikolog dan para ahli gizi juga dilibatkan. Demi- kian pula para ahli kesehatan turut dilibatkan secara rutin memeriksa catatan kesehatan mereka. Catatan kesehatan inilah yang menjadikan mereka di- urut, terutama tentang siapa yang duluan dan belakangan ditarik.

Ahli kebatinan dan juga keagamaan turut dilibatkan untuk menenangkan batin mereka. Hal itu semakin diperkuat lagi dengan pemberian rosario, yang diberkati langsung oleh Paus Benediktus XVI.

Berita-berita yang terjadi di permukaan bumi juga dikirimkan kepada mereka agar pikiran mereka tidak terganggu atau tidak merasa terisolasi, tetapi tetap merasa seperti terhubung dengan dunia luar.

Saat ini semua petambang relatif sehat, dan 31 orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Dua orang masih dirawat karena ada yang harus menjalani perawatan gigi dan salah satu petambang masih merasa pusing.

Direktur Kesehatan Regional Paola Neumann mengatakan, 31 petambang sudah pulang karena tidak memiliki masalah serius soal kesehatan.

[kompas]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...



About

Speak Your Mind

*