Jakarta -
Pepatah mengatakan, ‘carilah ilmu sampai negeri China’. Tapi untuk mengentaskan kemiskinan, Komisi VIII DPR tidak perlu melakukannya sampai ke China dan Australia. Cara untuk mengentaskan kemiskinan bisa dilakukan dengan melakukan studi di daerah. Selain hemat waktu, juga lebih murah.
“Kalau mau mengentaskan kemiskinan, studi tidak perlu dilakukan di daerah kaya. Seharusnya dilakukan di daerah yang sumber dayanya terbatas tapi mampu. Untuk ini, dari daerah saja cukup,” ujar pengamat politik dari UGM, Arie Sudjito, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (18/4/2011).
Menurut Arie, beberapa pemerintah daerah telah berupaya membuat terobosan untuk mengentaskan kemiskinan. Formula pengentasan kemiskinan di Indonesia sebenarnya sudah banyak. Sayangnya formula yang ada di daerah belum cukup mendapat kajian untuk diimplementasikan di tingkat nasional.
“Karena itu belum ada formula ampuh untuk poverty reduction yang menyeluruh. Tidak ada evaluasi dari masing-masing kementerian tentang keerhasilannya. Selama ini masih dilihat, keberhasilan itu kalau dananya terserap, sehingga ada distorsi,” terang Arie.
Mencari formula pengentasan kemiskinan di China dan Australia menurutnya tidak relevan. Karena itu, akan sangat wajar jika masyarakat melihat apa yang dilakukan DPR ini tak ubahnya sebagai kedok untuk jalan-jalan.
“Mbok ya belajar saja pada daerah. NGO di sini juga sudah banyak yang studi tentang penanggulangan kemiskinan. Mereka punya tipologi daerah dalam penanggulangan kemiskinan, banyak studinya,” sambung Arie.
Dia menambahkan, sebaiknya DPR mengundang pemerintah daerah yang memiliki strategi tepat, LSM maupun perguruan tinggi. Jika ini dilakukan, maka DPR bisa menghemat banyak pengeluaran.
“Ini akan lebih murah dan bisa belajar sesuai konteks. Kalau belajar di luar negeri, hanya belajar dari teori. Ketika teori itu diimpor, bisa saja tidak sesuai konteks. Relevansinya nggak ada kalau malah studi di luar negeri,” tutur Arie.
Dia berpendapat, kajian NGO dan strategi yang diterapkan pemerintah daerah lebih orisinal. Sayangnya cara itu tidak diambil. “Tanpa mengurangi rasa hormat, daripada hanya hamburkan uang, ini banyak formula kok untuk menyelesaikan kemiskinan. Memang masih banyak catatan, karena tidak ada yang sempurna, tapi bisa dievalusi menyeluruh dan diadopsi,” ucap Arie.
Berbekal draf RUU Fakir Miskin yang masih setengah jadi, rombongan komisi VIII DPR bertolak ke Australia dan China. Rombongan yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR Gondo Radityo Gambiro bertolak ke Australia dan China pada hari Minggu (17/4). Rombongan akan melakukan tour ke dua negara tersebut hingga 24 April 2011.
Dalam kunjungan tersebut rombongan Komisi VIII DPR akan menggelar pertemuan dengan parlemen China dan Australia. Membahas utamanya terkait regulasi dan jaminan bagi fakir miskin di China dan Australia.
(vta/mad)
Tetap update informasi di manapun dengan
Sumber : “http://www.detiknews.com/read/2011/04/18/201628/1620207/10/cari-cara-entaskan-kemiskinan-komisi-viii-dpr-tak-perlu-sampai-china”








