VIVAnews – Pasukan keamanan Suriah menembaki proses pemakaman yang dihadiri puluhan ribu orang, Sabtu, 23 April 2011, satu hari setelah insiden berdarah dalam pemberontakan terhadap Presiden Bashar Assad. Penembakan itu mendorong korban tewas lebih 120 orang dalam dua hari.
Menyusul insiden tersebut, dua orang anggota parlemen dan pemimpin agama mundur memprotes tindak kekerasan itu. Pengunduran diri itu dapat menjadi tanda keretakan rezim pemerintah, dimana hampir semua tokoh oposisi telah dipenjara atau dibuang selama dinasti keluarga Assad 40 tahun berkuasa.
“Saya tidak dapat mentolerir darah anak kami dan anak tidak bersalah menjadi korban,” ujar Syeikh Abdul Rahim Rizq usai mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ulama di Daraa,








